Aku tertegun melihat orang-orang berlarian dengan panik. Jeritan, teriakan, tangisan membaur menjadi satu. Beberapa orang kurasakan menyenggol tubuhku namun aku tetap bergeming. Membatu.
Kebingungan membiusku. Tidak ada kesimpulan yang dapat kutemukan dari semua hal yang terjadi di depan mataku. Ketakutan mulai menguasaiku berbarengan dengan bau minyak tanah yang membuat isi perutku melonjak-lonjak minta permisi.
Beberapa orang berseragam mulai menyulut api sementara kawanan mereka yang lain dengan liar melepaskan peluru dari senapannya.
Tubuhku bergetar.
Saat api menjilat-jilat memenuhi angkasa membumihanguskan semua yang disambarnya, aku masih tegak di tempatku. Begitu pula saat moncong senapan yang terasa panas menempel tepat di jidatku, hal yang sempat terpikirkan untuk dilakukan hanyalah pasrah dan memejamkan mata.
Tibalah waktuku.
“A…”
Aku mendengar teriakan panjangku membelah malam.
* * *
“Lagi-lagi mimpi aneh,” desisku sambil menyepak kerikil besar di depanku. Tampak jelas di antara aspal licin sepanjang jalan.
Pada hari ini, seperti biasa aku menyusuri Jalan Soepomo yang masih terasa lengang. Inilah jalan tercepat menuju sekolahku, SMA Bina Bhakti.
Masih pukul 06.30 saat aku berpamitan kepada mama. Mimpi malam tadi membuat mataku melek dari pukul 03.00 dan tidak kunjung tertidur kembali sampai terdengar lantunan ayat-ayat suci dari surau dekat rumahku. Jadi, kuputuskan untuk segera mengakhiri segala usahaku untuk kembali melelapkan diri.
Mimpi itu… aku sebenarnya tidak tahu dengan pasti apakah kejadian malam tadi mimpi atau bukan. Bau minyak tanah masih menempel lekat di hidungku saat aku menyadari tubuhku berada di atas tempat tidur dan kupastikan bahwa aku memang sedang bermimpi.
Bukan sekali ini saja aku memimpikan hal tersebut, dua atau tiga malam sebelumnya aku pun memimpikan keadaan tersebut walau tidak sejelas mimpi yang terakhir ini. Orang-orang berseragam, orang-orang yang berlarian, senapan, bau minyak tanah, api yang berkobar murka lalu…ada sesuatu yang masih samar-samar, hal yang seharusnya kuingat tetapi terlewat dari memoriku.
Aku masih sibuk dengan pikiranku sampai akhirnya terdengar suara cempreng yang terasa begitu dekat dengan telingaku, “Jangan suka melamun, musuh akan dengan leluasa membinasakanmu jika kau dalam keadaan tidak awas,” seru suara itu dengan nada setengah mengejek.
“Musuh apa?” tanyaku bingung sambil memperhatikan anak yang telah ada di sampingku. Kuperkirakan dia sebaya denganku walaupun badannya lebih tinggi sekitar 10 cm dariku. Perawakannya yang ceking ditambah suaranya yang cempreng membuatnya agak terlihat lucu meskipun sedari tadi kuperhatikan dia selalu berusaha menggagah-gagahkan diri.
Tunggu, ya ampun… manusia dari mana ini? Bajunya, celana, belum lagi potongan rambutnya, cek..cek..cek… ketinggalan mode sekali (aku sendiri kurang begitu tahu tentang mode, tetapi menurutku tidak segawat orang ini).
“Ya… Belanda. Kau tidak tahu?” keningnya yang tebal semakin bertaut karena berkernyit. Sikapnya seakan-akan baru saja mendengar hal yang paling aneh sedunia.
“Kita kan sudah merdeka, Belanda dari mana?” tanyaku hampir tertawa.
“Teman, pengetahuanmu begitu dangkal rupanya,” kulihat dia menggeleng-gelengkan kepala dengan prihatin.
Apa dia bilang? Pengetahuanku begitu dangkal? Seenak perutnya dia ngomong, sebenarnya apa tidak kebalik tuh?
“Kemerdekaan kita memang sudah diploklamirkan, tetapi kemerdekaan belum sepenuhnya milik kita. Belanda masih berusaha mencengkram kita dengan Nicanya. Bahkan mengatakan kepada dunia bahwa kemerdekaan kita ini hanyalah hadiah dari Jepang. Dasar bedebah mereka itu,” muka anak itu terlihat merah padam. Begitu marahnya dia sampai urat lehernya terlihat menegang.
Benarkah itu? Apakah aku yang ketinggalan begitu banyak? Tetapi kenapa pagi tadi aku tidak mendengarnya di liputan pagi, koran ataupun desas-desus sekalipun. Bukankah hal seserius ini akan membuat Indonesia gempar dan menyiagakan semua armadanya. Tentunya pula akan menjadi bahasan utama di semua pembicaraan. Kedaulatan Indonesia sedang terancam. Nyatanya, hei… tidakkah ini seperti yang tertulis di dalam buku sejarahku.
Berarti…
Di benakku bermunculan beberapa dugaan. Anak ini hilang ingatan, amnesia, sedikit terganggu dengan obsesinya menjadi pejuang atau ini hanya akal-akalan saja untuk mengisengi orang?
“Mau kuajak ke suatu tempat yang akan membuatmu mengetahui banyak hal?”
Aku mengangkat bahu.
“Untuk kali ini tidak dulu deh… aku juga harus pergi ke suatu tempat yang membuatku mengetahui banyak hal,” aku tersenyum ke arahnya. “Senang bertemu denganmu, oh, ya… namaku Rafi,” kuulurkan tangan ke arahnya, tulus.
“Oemar.” Sahutnya singkat sambil membalas uluran tanganku.
“Sayang sekali kau tidak dapat ikut bersamaku. Para pemuda kita harus disadarkan tentang pentingnya pendidikan agar kita semua dapat terlepas dari belenggu penjajahan.”
Aku mengangguk-angguk kecil. Aku tidak tahu permainan apa yang sedang dimainkannya. Mungkin dia salah satu calon anggota klub teater yang sedang menjalani tes, atau apalah sejenisnya. Yang pasti, aku tidak harus ikut dalam permainan anak dengan dandanan tahun 50-an ini kan?
Kubalikkan badan menuju arah yang berlawanan dengan Oemar. Rasa geli membiaskan senyum di wajahku. Namun, keadaan ini hanya mampu bertahan selama beberapa detik sebelum aku memperhatikan sekelilingku. Heran, semuanya terasa asing. Jalan beraspal licin yang beberapa saat lalu masih kutapaki telah berubah menjadi tanah merah yang lembek dan becek.
Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali dan saat itulah aku melihat keadaan diriku sendiri yang tak kalah parah dengan Oemar. Seragam SMAku, tas, jam tangan serta sepatuku raib tanpa kusadari dan sebagai gantinya kini melekat pakaian yang sama basinya dengan Oemar. Rambutku, uh… aku tak perlu bercermin untuk memastikan penampilanku sekarang.
Dengan cepat aku berbalik mengejar Oemar yang masih terlihat punggungnya dari tempatku berada. Hanya dia orang yang perlu dimintai penjelasan tentang semua hal yang berlangsung ini. “Tunggu, Mar…” setengah berteriak aku memanggil Oemar.
Oemar menoleh ke arahku, “Berubah pikiran?” komentar pertamanya saat aku berhasil menjejari langkahnya.
“Tak ada salahnya kan?” sahutku.
Aku ingin tahu permainan apa yang sedang dimainkan Oemar. Sejauh ini memang sangat mengesankan. Perpaduan antara akting, sulap dan hipnotis kupikir. Satu alasan yang paling utama adalah karena untuk saat ini aku sama sekali tidak tahu jalan untuk pulang.
* * *
Indonesia Nederlandsche School
Aku membaca sekilas papan nama yang tertangkap oleh mataku sebelum mengikuti Oemar berbaris bersama anak-anak yang lain. Apakah ini sebuah syuting adegan film dengan latar masa penjajahan? Kepalaku dipenuhi dengan beribu-ribu pertanyaan. Mimpi, pasti mimpi lagi.
“Plak,” kutampar pipiku sendiri. Sakit, kenyataan.
“Tegapkan badanmu! Bagitukah caramu menghargai perjuangan orang-orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya agar bendera ini dapat tegak di bawah langit biru?” setengah berbisik Oemar menegurku tajam.
Tubuhku mengejang. Antara tersinggung dan malu. Aku memfokuskan pandanganku ke depan, menatap Merah Putih yang terus bergulir dengan pasti menuju puncak. Terasa debar aneh saat menantikannya. Sesuatu yang belum pernah terasa sebelumnya.
Terdengar isak tangis keharuan di sekitarku, aku pun diliputi keharuan ganjil. Ikut terhanyut dengan suasana di sekelilingku.
“Sangat langka kesempatan melihat Merah Putih berkibar dengan gagah seperti ini,” kudengar suara Oemar seperti tercekat di tenggorokan.
Tiba-tiba semuanya menjadi samar-samar lalu berubah menjadi potongan-potongan yang tak beraturan. Oemar, anak-anak yang sebelumnya berada di dekatku, sebuah bangunan dengan nama Indonesia Nederlandsche School semuanya seakan tersedot ke sebuah lubang yang amat dalam.
Hanya Merah Putih yang berkibarlah yang tetap tegak. Keheningan pun tergantikan dengan keluh kesah, bisik-bisik bercapur tawa tertahan. Menyatu di bawah sinaran mentari pagi.
Sekarang aku tegak di antara anak-anak berseragam SMA, putih abu-abu dengan upacara rutin setiap minggunya, Upacara Bendera.
* * *
“Keadaan negeri kita belum stabil sepenuhnya hingga saat ini,” jawab Oemar ketika aku menanyakan kenapa hari ini Oemar tidak mengajakku ke INS, sekolahnya.
“Kegiatan sekolah pun pasang surut karena pengaruhnya,” katanya lagi.
“Gurumu tidak meminta bantuan orang lain untuk menangani INS?” aku merasa bingung ketika mengetahui Bapak Moh. Sjafei, guru Oemar mengajar sendirian di INS merangkap sebagai pemimpinnya.
“Kau pikir berapa orang yang bisa membaca dan menulis di Kayu Tanam ini? Kalaupun ada, mereka telah menjadi kaki tangan para kompeni. Para penjajah itu tak mungkin menyekolahkan mereka kalau bukan untuk kepentingan kompeni sendiri.”
“Itulah sebabnya aku bertekad sepenuh hati belajar dengan giat agar kelak aku dapat membantu guru mengajar di depan kelas, itu impianku. Sekarang pun kemampuan membacaku sudah boleh diuji. Aku selalu berlatih setiap ada kesempatan,” tersirat nada bangga di suaranya.
Kami duduk-duduk di atas batu besar dekat kali. Seperti pertemuan pertama kami, pertemuan-pertemuan selanjutnya berlangsung secara alami. Aku menunggu Oemar di Jalan Soepomo, persis di tempat pertama kali Oemar menegurku kemudian kehadiran Oemar dengan sapaan hangatnya serta merta menyadarkanku bahwa aku telah berada di tanah kelahiran Oemar.
“Rakyat kita masih takut melawan penjajah. Beberapa pihak malah takut kalau-kalau Belanda tersingkir dari negeri ini karena terlalu tergantung pada para penjajah itu. Mereka menjadi parasit bagi saudara sebangsa dan setanah air demi kesenangan sesaat.”
“Guru selalu menanamkan pada kami kenyakinan pada diri sendiri sehingga dapat lepas dari semua bentuk penjajahan dan rasa cinta tanah air agar kami rela mengorbankan semua yang ada untuk mencapai kemerdekaan. Kalau semua rakyat mau bersatu untuk mengusir para penjajah, mereka tidak akan mampu berkutik walaupun dilengkapi dengan peralatan canggih dan dibantu para sekutu -sekutunya,” Oemar melanjutkan.
“ Bambu runcing kita akan mampu membuat mereka kocar-kacir. Dengan semangat cinta tanah air, mati syahid atau hidup mulia, itu yang membuat kita semakin kuat, hal ini tidak dimiliki oleh para kompeni. Guru sering menceritakan tentang Ibnu Iskandar dan Iman Bonjol dalam melawan penjajah, mereka orang-orang berani yang optimis tentang kemerdekaan.”
“Aku ingin memiliki keberanian tersebut. Aku ingin semangat itu mengalir bersama aliran darahku dan nantinya akan menulari orang-orang di dekatku,” Oemar berdiri, matanya terpejam, tangannya mengepal.
Sejurus kemudian tangannya meninju angkasa dibarengi dengan pekikan takbirnya yang membahana.
Darahku menggelagak. Kurasakan adrenalinku berpacu, menyeruak ke seluruh otot-ototku. Tanpa sadar aku pun bangkit dan bersahutan bersama Oemar memekikkan takbir dengan perasaan yang tidak dapat kulukiskan.
“Allahu Akbar!”
“Merdeka!”
* * *
Aku tidak bertemu Oemar beberapa hari ini. Hampir setiap hari aku menunggunya di tempat biasa, namun sosok Oemar tidak tampak sedikit pun.
Kehadiran Oemar memang sangat berarti bagi hidupku. Aku merasakan pasokan semangat yang terus mengalir saat berada di dekatnya, ikut belajar di INS, mendengarkan cerita dan menyimak pelajaran dari Pak Sjafei serta bergaul dengan teman-teman Oemar yang tak kalah semangatnya.
Lima menit, sepuluh menit sampai setengah jam berlalu tanpa kehadiran Oemar. Aku memutuskan untuk kembali ke sekolah, waktu istirahat pasti telah usai. Oemar mungkin sibuk sekali minggu-mingu ini. Aku teringat cerita Oemar bahwa Belanda sudah mulai memasuki kawasan sekitar Kayu Tanam.
Aku sudah akan melangkah pergi saat kurasakan kegerahan yang luar biasa. Kegaduhan dari arah belakangku membuatku membalikkan badan. Asap kelabu membumbung di angkasa. Aku terperangah saat menyadari dari mana api berasal.
“Kayu Tanam,” desisku.
Tergesa-gesa aku berlari menuju desa Oemar dan inilah pertama kalinya aku pergi tanpa dirinya bersamaku.
Beberapa orang berseragam tampak berseliweran dengan sikap siaga di jalan-jalan. Di dalam pikiranku hanyalah Oemar. Para penduduk desa berlarian kalang kabut berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya, suara letupan senjata api menambah kacau suasana.
Mengendap-endap aku berlari menuju INS. Ada suatu dorongan kuat yang menginginkan agar aku melihat keadaan INS. Di depanku tampak sekumpulan serdadu berjalan ke arah yang sama dengan tujuanku. Di tangan beberapa orang dari mereka tampak teng -teng yang mungkinkah isinya…
“INS…”
Lamat-lamat aku teringat potongan demi potongan mimpi-mimpiku. Mereka berhenti tepat di depan INS sementara aku masih terpaku di balik sebatang pohon yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka.
Mereka terlihat mulai menyirami INS dengan minyak tanah yang mereka tumpahkan dari teng-teng yang tadi mereka bawa tanpa mempedulikan ricuhnya keadaan sekeliling, seakan-akan tugas mereka hanyalah untuk memusnahkan keberadaan INS dari bumi Kayu Tanam.
Aku masih mematung tak tahu harus melakukan apa saat terdengar suara cempreng yang melengking dari arah depan, “Apa yang akan kalian lakukan dengan sekolahku ?”
Oemar melesat menerkam seorang serdadu yang sedang berusaha menyalakan api.
Dengan enteng dia menyentak tubuh Oemar dan membantingnya dengan kasar ke tanah, tak puas dia kemudian menendang perut Oemar sampai terdengar jerit kesakitan Oemar ke tempatku bersembunyi.
“Oemar… pergi… ke sini Oemar!” jeritku tanpa mampu menolong Oemar. Ketakutan membuat seluruh tubuhku hilang kendali.
“Oemar…” lagi-lagi aku hanya dapat berteriak saat kulihat Oemar kembali bangkit dan berusaha menyerang orang-orang berseragam di depannya.
Api sudah merayap melahap dinding, atap dan semua yang ada di INS saat kulihat seorang serdadu mengarahkan senapannya ke arah Oemar.
Napasku tercekat menantikan detik berikutnya.
“Dor…”
Aku mati rasa.
Mimpiku…
* * *
“Rafi,” tepukan di pundakku membuatku tersentak cukup keras sehingga menyebabkan kursiku menimbulkan suara decitan.
“Kalau kau merasa kurang enak badan, kau boleh pulang nak,” setengah sadar aku mendengar suara Pak Sutardji menerobos gendang telingaku.
Masih kurasakan keringat yang mengalir deras dari seluruh tubuhku. Ketegangan masih terasa sempurna di antara tarikan napasku.
Aku menggeleng, mengisyaratkan aku tak apa-apa.
Pak Sutardji mengangguk walau tatapannya masih menyiratkan kekhawatiran. Beliau kembali ke depan kelas dan melanjutkan pelajaran.
Oh… Oemar seharusnya kau pun berdiri di depan murid-muridmu. Menulari mereka dengan semangatmu, mengajari mereka untuk mandiri dan cinta terhadap tanah air seperti cita-citamu.
Tetapi tenanglah Oemar. Perjuangan akan terus berlanjut. Rakyat kita akan terbebas dari kebodohan. Kita akan merdeka jiwa dan raga. Penjajahan akan kita usir dari negeri ini. Kau akan melihat banyak orang yang akan mewujudkan impianmu, dan kau akan menemukanku di jalan yang sama denganmu.
Rafi Maulana Abdullah.
Desember 1948 yang kelam.
Terinspirasi dari cerita INS Kayu Tanam pada bahan mata kuliah Pengantar Pendidikan