Anak Sima Wednesday, Apr 22 2009 

Terkadang malam menjadi sahabat, terkadang menjadi musuh.

Wanita itu mendongak, mencoba membaca isyarat yang ditampakkan langit. Apakah gerangan yang ingin kau sampaikan? Adakah kau ingin memberitahu suatu pertanda?

Beberapa hari ini malamnya tak memberikan ketenangan. Ada sesuatu yang mengusiknya, tetapi tak berani diungkapkannya. Dia biarkan kegelisahan menggerogoti waktunya bersatu dengan peraduannya, sehingga dia takkan pernah bisa lagi menikmati saat-saat ototnya dilemaskan oleh kapuk yang kian menipis.

Perlahan wanita itu menurunkan tangan suaminya yang erat merengkuh dirinya, kemudian disibaknya kelambu mereka dengan cepat berharap tak ada satu nyamukpun yang masuk dan menganggu tidur suaminya. Tanpa bunyi dia membuka pintu rumah dan membiarkan dirinya melebur dengan malam.

“Hanya malam ini,” janjinya.

Firasat itu datang lagi. Bukan firasat yang baik pikirnya, tetapi bukankah tangis itu yang selalu dirindukannya bertahun-tahun? Lalu, kenapa harus ragu? Kenapa harus peduli dengan bulan yang tak mau menampakkan diri.  kenapa harus pusing dengan kesenyapan ganjil yang menyelimuti malam ini.

Dia menunggu dengan waspada. Menunggu pesan yang dibawa angin. Dia akan menemukan pemilik tangis itu.

# # #

Ka, dengar tidak, suara itu,” wanita itu berusaha mendapatkan kepastian akan apa yang telah tertangkap oleh pendengarannya.

“Suara apa, Ding? Tidak terdengar apa-apa,” suaminya terlihat enggan membahas apa yang telah didengarnya.

“Suara bayi, Ka. Apa ada tetangga kita yang baru melahirkan?”

“Hmm…”

Senja baru berlalu. Namun, jaring-jaring malam telah membungkus rapat permukaan langit. Membingkai rapi wajah malam dengan pekatnya dan tidak menyisakan satu celah pun untuk diterobos semburat jingga yang pergi dengan tergesa.

Suaminya kembali meneruskan makan malamnya dengan lahap sementara wanita itu tiba-tiba kehilangan nafsu makannya. Dia semakin sadar, kehidupannya begitu sepi.

Dia memerlukan tangis itu untuk menjadi bintang di gelap langitnya.

# # #

“Maukah kau menceritakan padaku kembali tentang siapa aku ini?” aku bertanya pada makhluk di depanku.

Aku mendengarnya seperti menghela napas.

“Aku hanya ingin mendengar lagi tentang wanita itu.”

“Apa kau merindukannya?”

Aku selalu merindukannya, aku hampir selalu menginginkan dirinya. Namun, aku diam saja. Tak kukatakan apa-apa pada makhluk di depanku itu.

“Lupakanlah,” ujarnya. Makhluk itu lalu menggendongku sambil bernyanyi:

Si Takau lapar, garurukan parutnya

Masuki hutan mancari mangsa

Batamuan si anak sima

Bungas muhanya malang nasibnya

Dibuang di hutan tasia-sia

Panas, hujan dingin ditanggungnya

Manyasal hidup kadada guna

Aku memejamkan mata. Aku tak diinginkan, karena itulah aku dibuang. Tapi untuk apa aku hidup? Aku ingin memiliki sebuah kehidupan.

“Terima kasih telah menyelamatkanku. Aku tak akan pernah melupakan hal itu, kau yang mengajariku banyak hal.”

Aku terdiam, makhluk bernama Takau itu pun terdiam.

“Apakah mereka memang sejahat itu?”

“Entahlah, yang jelas kau hanya mengambil apa yang kau perlukan untuk hidup.”

Makhluk itu pergi, anganku pun pergi.

# # #

Aku yakin wanita setengah baya itu telah melihatku.

Uma…’

Dia semakin menghampiriku. Kedua bibirnya setengah terbuka dan aku melihat air matanya mengalir dari kedua matanya. Kenapa dia sesedih itu melihatku?

“Tolong bawa aku pulang,” rengekku.

Wanita itu menangis hebat. Aku tak tahu apa yang ada di pikirannya, yang jelas aku tahu wanita akan lemah terhadapku, si anak Sima.

“Kaukah jawaban Tuhan selama ini atas doa-doaku dan suamiku?” bisiknya. Tangan wanita itu terulur mengangkat tubuhku.

“Handak di hambin haja,” pintaku.

Wanita itu mengabulkan keinginanku. Dia melekatkanku erat ke punggungnya. Kupejamkan mata dan kucoba meresapi kebersamaan kami. Antara aku dan wanita. Beginikah rasanya? Sepertinya aku mau menyerahkan segalanya agar aku terus merasakan kehangatan ini.

“Mama,” aku mengucapkan kata-kata itu lamat-lamat. Tiba-tiba ada yang bergolak di perutku. “Tidak, jangan dulu,” pekikku dalam hati.

Aku terus berjuang melawan diriku sendiri sementara wanita ini semakin terseok-seok menahan berat tubuhku yang terus bertambah. Aku tahu dia kelelahan tetapi dia tak pernah berhenti menenangkan diriku bahwa kami akan segera sampai di rumah.

Aku tak tahan lagi. Tanganku mulai bergerak, bekerja sama dengan gigi taringku yang muncul dengan sendirinya. Selapis dua lapis aku mengoyak dan mencabik kulit dan daging punggung wanita tadi.

Napasku memburu. Aku mendengar geraman diriku sendiri bersamaan jerit kesakitan berbaur ketakutan wanita yang sekarang berusaha melepaskan cengkeramanku di punggungnya.

Kami bergulat bersimbah darah. Kenapa begini? Aku menginginkannya. Dia pun menginginkanku. Aku terus melekat seperti lintah. Aku tidak ingin berlama-lama seperti ini. Aku tak tahu apa yang sedang kurasakan. Aku kehilangan kendali. Rasa laparku telah membius semua yang ada padaku. Aku tak bisa menghentikan diriku. Teriakanku melengking membelah sunyinya malam yang semakin pekat. Kebencian dan kesedihan meruak membungkusku.

Dengan satu sentakan aku merenggut jantung wanita itu melalui lubang yang berhasil kubuat di punggungnya.

Wanita itu terkapar.

Kupandangi jantung segar di tangan kiriku.

“Aku lapar,” bisikku datar kepadanya.

“Seorang ibu akan memberikan makanan kan, kalau anaknya lapar?” dengan cepat kujejalkan benda merah itu ke mulutku. Diiringi tangsiku, kukecup pipi wanita itu sebelum aku hilang bersama malam.

Terinspirasi dari tulisan Anak Sultan tentang “Anak Sima”

http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/06/anak-sima-bayi-pemakan

-jantung/

Anak Sima adalah cerita rakyat Banjar tentang bayi pemakan jantung manusia. Diceritakan bahwa bayi ini dibuang ke dalam hutan karena hasil dari hubungan haram. Bayi yang hampir meninggal ini akhirnya diasuh Takau (hantu yang wujudnya dapat berubah-ubah ) yang jatuh hati pada keelokan rupa si bayi. Anak Sima ini tidak bisa tumbuh besar, wujudnya hanya bayi dan ikut Takau mengembara keluar masuk hutan. Anak Sima mempunyai ilmu semacam ilmu pengasih, dengan tangisannya orang akan terpesona sehingga mencari-cari sumber suara, setelah orang itu mendekat Anak Sima dengan mesra akan memanggil orang itu ‘Uma-Uma’ (mama). Orang yang dipanggil akan merasa kasihan dan sayang sehingga tidak mampu menahan keinginan untuk menggendong Anak Sima.

Tentang Dajal Wednesday, Apr 22 2009 

Mengingat perbincangan kita di siang Sabtu dulu, jadi penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang Dajal, fitnah terbesar akhir zaman. Dulu pernah belajar, tetapi sudah lupa detailnya karena tak pernah mengulang lagi. Jadi, pas kemarin ada kesempatan untuk pulkam, ada kesempatan pula untuk kembali melihat buku masa sekolah.

Pembahasan mengenai Dajal ini dapat dilihat di “Fathul Majid” hlm. 14. Kalau ada yang membaca bagian dari terjemahan ini tidak sesuai dengan teks aslinya, tolong koreksinya. memang ada bagian-bagian yang dihilangkan karena  takut penerjemahan kurang sesuai dengan maksud sebenarnya.

Di sana disebutkan bahwa Dajal adalah seorang pemuda laa lihyah ‘tidak berjenggot’. Mata kirinya buta seakan-akan belum diciptakan dan matanya yang lain bercampur dengan darah. Tertulis di antara matanya tulisan “KAFIR” yang dapat dibaca oleh semua mukmin yang bisa menulis maupun yang tidak.

Besar badannya 80 hasta. Lebar antara kedua bahunya 30 hasta. Dajal memiliki tanduk yang ujungnya patah dan keluar dari patahan tersebut ular. Rambut Dajal seakan-akan dahan pohon. Salah satu tangannya lebih panjang panjang dari tangan yang lainnya. Dengan tangannya itu, dia dapat menggapai awan dan mengambil ikan dari dasar laut dan memanggangnya dalam matahari. Kalau Dajal masuk ke laut, laut itu hanya sampai mata kakinya.

Dajal akan keluar dari negeri Khurasan (Iran –Red) dan berteriak sebanyak tiga kali yang teriakannya itu dapat didengar oleh penduduk timur dan penduduk barat. Bumi seakan terlipat untuk Dajal.

Dajal memiliki keledai putih yang jarak antara kedua telinganya adalah 40 hasta. Satu telinganya dapat melindungi 70 orang. 1 langkah perjalanannya sama dengan perjalanan yang ditempuh selama 3 hari. Dajal meletakkan mimbar dari tembaga di atas punggung himar tersebut. Para pengikutnya, berjalan di sisinya sambil memukul gendang dan gambus dan tidak mendengarnya seseorang kecuali mengikutinya.

Dajal memerintahkan awan menurunkan hujan maka hujanlah, memerintahkan sungai untuk mengalir, maka mengalirlah. Dia perintahkan sungai untuk kering, maka keringlah sungai itu. Dia perintahkan pula bumi menumbuhkan tanaman dan mengeluarkan isi perutnya maka bumi melakukan apa yang diperintahkannya dan Dajal mempunyai gunung roti sementara manusia dalam keadaan kepayahan karena kelaparan kecuali orang-orang yang mengikutinya. Dajal juga membawa serta surga dan neraka yang seakan-akan tergambar jelas padahal keduanya adalah neraka.

Dajal mengaku sebagai Tuhan dan menyeru manusia beriman kepadanya. Bersama Dajal ada dua orang malaikat yang berada di kanan dan kirinya. Maka apabila Dajal berkata, “Bukankah aku Tuhan kalian yang menghidupkan dan mematikan.” Salah satu malaikat berkata, “Kau berdusta.” Namun, manusia tidak mendengarnya. Lalu berkata malaikat satunya, “Kau benar.” Mendengarlah manusia perkataan ini dan mengira kalau dia membenarkan Dajal (padahal malaikat ini membenarkan perkataan malaikat yang satunya –Red).

Lalu Dajal berkata kepada seseorang, “Apakah kalau kau melihatku membangkitkan ayah dan ibumu, kau akan mengakuiku sebagai Tuhanmu?” makadia  berkata, “Ya,” dan syaitan menyerupai wajah ayah dan ibunya dan berkata mereka, “Ikutilah dia, sesungguhnya dia Tuhanmu.” Disebutkan bahwa tidak akan terlepas manusia dari fitnah Dajal sampai 12 ribu laki-laki dan 7 ribu orang perempuan mengikutinya.

Di sumber lain, di situs http://www.nurislami.com/forum/viewtopic.php?t=97beberapa

kutipannya sebagai berikut:

Seribu empat ratus tahun yang silam, para sahabat sekalipun khawatir dengan kedatangan Dajal. Dajal akan muncul di antara Syam dan Irak, dan beberapa hadis menyebutkan bahwa dia akan muncul di Khurasan, Iran, bergerak cepat dan melintasi seluruh dunia: Al-Nawwās ibn Sam‘ān meriwayatkan bahwa suatu pagi Rasulullah bercerita tentang Dajal. Beliau terkadang menggambarkannya sebagai hal yang remeh, dan terkadang sebagai hal yang (dampaknya) sangat serius, dan kami merasa seolah-olah ia ada di rerimbunan pohon kurma.

Ketika kami menghadap beliau pada sore hari, dan beliau menyaksikan tanda-tanda kecemasan di wajah kami, beliau berkata, “Ada masalah apa?” Kami menjawab, “Ya Rasulullah, engkau bercerita tentang Dajal tadi pagi. Terkadang engkau menggambarkannya sebagai sosok yang sepele dan terkadang sebagai sosok yang sangat penting, sampai-sampai kami berpikir bahwa ia sudah berada dekat kami di rerimbunan pohon kurma.” Kemudian beliau bersabda, “Aku mencemaskan kalian dalam berbagai hal selain persoalan Dajal. Jika ia muncul ketika aku berada di tengah-tengah kalian, maka akan beradu argumen dengannya mewakili kalian, namun jika ia muncul dan aku tidak berada di antara kalian, salah seorang di antara kalian harus beradu argumen dengannya atas nama dirinya, dan Allah akan melindungi setiap muslim atas namaku.

Sesungguhnya Dajal adalah seorang pemuda dengan rambut dibelit dan salah satu matanya buta. Aku menyerupakannya dengan ‘Abd al-‘Uzzā ibn Qathan. Jika di antara kalian ada yang sempat bertemu dengannya, maka hendaklah ia membaca ayat pertama surah Al-Kahf. Ia akan muncul di antara Syam dan Irak, dan akan menyebarkan kejahatan di mana-mana. Wahai hamba Allah, tetaplah berada di atas jalan kebenaran!” Kami bertanya, “Ya Rasulallah, berapa lama ia akan hidup di dunia?” Beliau menjawab, “Selama empat puluh hari, yang satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu minggu, dan hari-hari sisanya seperti hari-hari kalian.”

Kami berkata, “Ya Rasulullah, pada hari yang sama seperti satu tahun, apakah salat sehari sudah cukup bagi kami?” Beliau menjawab, “Tidak, kalian harus memperhitungkan waktunya (dan kemudian melaksanakan salat).” Kami bertanya, “Ya Rasulallah, seberapa cepat ia akan menjelajahi bumi?” Beliau menjawab, “Seperti awan yang ditiup angin. Ia akan mendatangi sebuah bangsa dan mengajaknya (kepada agama yang sesat), dan mereka akan memercayainya dan mengikuti ajakannya. Ia kemudian akan memberi instruksi kepada langit dan kemudian hujan turun membasahi bumi dan menumbuhkan tanaman. Kemudian pada sore harinya,
hewan-hewan yang gemuk akan datang kepada mereka dengan punuknya yang tinggi, kantong susu yang penuh berisi, dan panggul yang lebar.

Ia kemudian akan datang ke bangsa lain dan mengajak mereka (kepada agamanya yang sesat). Namun, mereka kemudian menolaknya, dan ia pergi meninggalkan mereka. Lalu mereka ditimpa kekeringan dan tak tersisa lagi kekayaan mereka sedikit pun. Ia kemudian akan berjalan menelusuri tanah yang tandus itu dan berkata, ‘Keluarkan isi perutmu,’ dan isi bumi akan keluar dan berkumpul di depannya seperti sekawanan lebah. Ia kemudian akan memanggil seorang anak muda. Kemudian ia memenggalnya dengan pedang dan memotongnya menjadi dua bagian serta memisahkan kedua potongan tubuh itu di dua tempat terpisah sejauh busur panah dan sasarannya.

Ia kemudian akan memanggil kembali anak muda itu yang akan datang ke hadapannya sambil tertawa dengan wajah yang ceria karena bahagia, dan persis pada saat-saat seperti itulah Allah akan mengutus ‘Isā ibn Maryam, dan beliau akan turun dari menara putih di timur Damaskus dengan mengenakan dua jubah yang dicelup dengan semacam kunyit sambil meletakkan kedua tangannya di sayap dua malaikat. Ketika ia menundukkan lehernya, butiran keringatnya akan jatuh menetes dari kepalanya, dan ketika ia mengangkatnya kembali, butiran laksana mutiara akan bertebaran keluar dari kepalanya.

Setiap orang kafir yang mencium wangi tubuhnya akan mati dan tarikan napasnya akan mencapai jarak sejauh mata memandang. Ia akan mencari Dajal hingga berhasil menangkapnya di gerbang Ludd dan kemudian membunuhnya. Kemudian orang-orang yang dilindungi Allah akan menghadap ‘Īsā ibn Maryam dan ia akan mengusap wajah mereka dan memberi tahu kedudukan mereka di surga. Ketika itulah Allah akan menurunkan wahyu kepada ‘Īsā, ‘Aku telah mengutus ke tengah-tengah kalian seorang hamba-Ku yang tidak akan terkalahkan, engkau membawa umatku dengan aman ke bukit Thūr,’ dan Allah kemudian akan mengirim Ya’jūj dan Ma’jūj dan mereka akan turun dari setiap dataran tinggi.

Yang pertama di antara mereka akan melintas Danau Tiberias dan meminum airnya, sementara yang terakhir di antara mereka akan melewatinya dan berkata, ‘Dulu di sana ada air.’ ‘Īsā dan para sahabatnya akan terkepung di tempat itu (di bukit Thūr, dan mereka akan sangat tertekan) sehingga harga kepala seekor lembu jantan lebih dari seratus dinar, lalu Nabi Allah, ‘Īsā, dan para sahabatnya akan berdoa kepada Allah, yang akan mengutus bala tentara serangga untuk menyerang mereka (pada bagian leher) dan pada pagi harinya, mereka musnah seperti satu orang saja.

Nabi Allah, ‘Īsā, dan para sahabatnya kemudian akan menuruni lembah dan mereka menemukan bangkai mereka dan bau busuk pada setiap jengkal tanah daratan. Nabi Allah, ‘Īsā, dan para sahabatnya kemudian kembali memohon perlindungan Allah, yang akan mengutus bala tentara burung yang lehernya mirip dengan unta berpunuk ganda dan akan membawa bangkai mereka dan membuangnya ke tempat yang dikehendaki Allah.

“Lalu Allah akan menurunkan hujan yang akan menyeret semua rumah dari tanah liat atau tenda dari kulit unta dan membersihkan bumi hingga ia tampak seperti cermin. Kemudian bumi akan diperintahkan untuk mengeluarkan buah-buahan dan mengembalikan rahmatnya, sehingga akan tumbuh buah delima yang sangat besar sehingga sekelompok orang bisa memakannya beramai-ramai dan berlindung di balik kulitnya, dan sapi perahan mengeluarkan susu yang berlimpah sehingga sekelompok orang bisa meminumnya beramai-ramai.

Unta perahan juga akan mengeluarkan susu yang berlimpah sehingga seluruh anggota suku bisa meminumnya beramai-ramai, dan domba perahan juga akan mengeluarkan susu yang berlimpah sehingga sebuah keluarga bisa meminumnya beramai-ramai. Saat itulah Allah akan mengirimkan hembusan angin lembut yang bahkan akan menyejukkan ketiak setiap orang. Angin sejuk itu akan mengambil nyawa setiap orang beriman, dan yang tertinggal di bumi hanyalah orang-orang jahat yang akan melakukan perzinaan seperti keledai, dan Hari Kiamat akan menimpa mereka.”

Hadis tersebut menyebutkan bahwa Dajal akan berjalan di muka bumi seperti awan yang ditiup angin. Anas meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:Tidak ada tempat yang tidak dimasuki Dajal kecuali Mekah dan Madinah. Ibn ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Aku memperingatkan kalian tentang Dajal, dan setiap nabi yang diutus pasti akan memperingatkan umatnya tentang Dajal. Tak diragukan lagi, Nūh telah memperingatkan umatnya tentang Dajal, tetapi aku akan menceritakan sesuatu tentang Dajal yang tak diceritakan oleh para nabi sebelumku. Kalian harus tahu bahwa dia bermata satu, dan Allah tidak bermata satu.

Nabi saw. bersabda: Dajal akan muncul dengan mengenakan pakaian ihram ke perbatasan Madinah. Salah seorang penduduk terbaik Madinah akan menghampirinya dan berkata, “Aku bersumpah bahwa engkau adalah Dajal yang diceritakan oleh Nabi saw.” Dajal kemudian berkata kepada para pengikutnya, “Jika aku bunuh orang ini dan menghidupkannya kembali apakah kalian percaya padaku?” Mereka menjawab, “Ya.” Lalu Dajal membunuh orang itu dan menghidupkannya kembali. Ketika orang itu hidup kembali ia berkata, “Demi Allah, aku yakin bahwa engkau adalahDajal!” Kemudian Dajal akan membunuhnya.

Dajal akan datang dengan kekuatan setan. Dia akan meneror orang-orang Islam agar mau menjadi pengikutnya, dan mengubah mereka menjadi orang-orang kafir. Dia akan menyembunyikan kebenaran dan menawarkan kebatilan. Nabi saw. mengatakan bahwa Dajal akan memiliki kekuatan untuk menampilkan wujud leluhur seseorang di kepalanya, seperti layar televisi. Leluhur itu akan berkata, “Wahai anakku, orang ini berkata benar. Aku kini ada di surga karena aku orang baik dan aku percaya kepadanya.” Sebenarnya orang itu ada di neraka. Jika ia berkata, “Percayalah kepada orang ini, aku ada di neraka karena aku tidak percaya kepadanya,” orang harus berkata kepada Dajal, “Tidak, ia ada di surga. Ini palsu.”

Abū Umāmah al-Bāhilī meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: Dajal akan berkata kepada suku badui, “Apakah pendapat kalian jika aku dapat membawa ayah dan ibu kalian hidup kembali? Apakah kalian akan percaya bahwa akulah tuhan kalian?” Orang-orang badui itu akan menjawab, “Ya.” Kemudian dua sosok setan akan muncul menyerupai ayah dan ibu mereka dan berkata, “Wahai anak-anakku, ikutilah dia karena dialah tuhan kalian.”

Na`udzubillahi min dzalik. (Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian itu)

Semangatmu Oemar Wednesday, Apr 22 2009 

Aku tertegun melihat orang-orang berlarian dengan panik. Jeritan, teriakan, tangisan membaur menjadi satu. Beberapa orang kurasakan menyenggol tubuhku namun aku tetap bergeming. Membatu.

Kebingungan membiusku. Tidak ada kesimpulan yang dapat kutemukan dari semua hal yang terjadi di depan mataku. Ketakutan mulai menguasaiku berbarengan dengan bau minyak tanah yang membuat isi perutku melonjak-lonjak minta permisi.

Beberapa orang berseragam mulai menyulut api sementara kawanan mereka yang lain dengan liar melepaskan peluru dari senapannya.

Tubuhku bergetar.

Saat api menjilat-jilat memenuhi angkasa membumihanguskan semua yang disambarnya, aku masih tegak di tempatku. Begitu pula saat moncong senapan yang terasa panas menempel tepat di jidatku, hal yang sempat terpikirkan untuk dilakukan hanyalah pasrah dan memejamkan mata.

Tibalah waktuku.

“A…”

Aku mendengar teriakan panjangku membelah malam.

* * *

“Lagi-lagi mimpi aneh,” desisku sambil menyepak kerikil besar di depanku. Tampak jelas di antara aspal licin sepanjang jalan.

Pada hari ini, seperti biasa aku menyusuri Jalan Soepomo yang masih terasa lengang. Inilah jalan tercepat menuju sekolahku, SMA Bina Bhakti.

Masih pukul 06.30 saat aku berpamitan kepada mama. Mimpi malam tadi membuat mataku melek dari pukul 03.00 dan tidak kunjung tertidur kembali sampai terdengar lantunan ayat-ayat suci dari surau dekat rumahku. Jadi, kuputuskan untuk segera mengakhiri segala usahaku untuk kembali melelapkan diri.

Mimpi itu… aku sebenarnya tidak tahu dengan pasti apakah kejadian malam tadi mimpi atau bukan. Bau minyak tanah masih menempel lekat di hidungku saat aku menyadari tubuhku berada di atas tempat tidur dan kupastikan bahwa aku memang sedang bermimpi.

Bukan sekali ini saja aku memimpikan hal tersebut, dua atau tiga malam sebelumnya aku pun memimpikan keadaan tersebut walau tidak sejelas mimpi yang terakhir ini. Orang-orang berseragam, orang-orang yang berlarian, senapan, bau minyak tanah, api yang berkobar murka lalu…ada sesuatu yang masih samar-samar, hal yang seharusnya kuingat tetapi terlewat dari memoriku.

Aku masih sibuk dengan pikiranku sampai akhirnya terdengar suara cempreng yang terasa begitu dekat dengan telingaku, “Jangan suka melamun, musuh akan dengan leluasa membinasakanmu jika kau dalam keadaan tidak awas,” seru suara itu dengan nada setengah mengejek.

“Musuh apa?” tanyaku bingung sambil memperhatikan anak yang telah ada di sampingku. Kuperkirakan dia sebaya denganku walaupun badannya lebih tinggi sekitar 10 cm dariku. Perawakannya yang ceking ditambah suaranya yang cempreng membuatnya agak terlihat lucu meskipun sedari tadi kuperhatikan dia selalu berusaha menggagah-gagahkan diri.

Tunggu, ya ampun… manusia dari mana ini? Bajunya, celana, belum lagi potongan rambutnya, cek..cek..cek… ketinggalan mode sekali (aku sendiri kurang begitu tahu tentang mode, tetapi menurutku tidak segawat orang ini).

“Ya… Belanda. Kau tidak tahu?” keningnya yang tebal semakin bertaut karena berkernyit. Sikapnya seakan-akan baru saja mendengar hal yang paling aneh sedunia.

“Kita kan sudah merdeka, Belanda dari mana?” tanyaku hampir tertawa.

“Teman, pengetahuanmu begitu dangkal rupanya,” kulihat dia menggeleng-gelengkan kepala dengan prihatin.

Apa dia bilang? Pengetahuanku begitu dangkal? Seenak perutnya dia ngomong, sebenarnya apa tidak kebalik tuh?

“Kemerdekaan kita memang sudah diploklamirkan, tetapi kemerdekaan belum sepenuhnya milik kita. Belanda masih berusaha mencengkram kita dengan Nicanya. Bahkan mengatakan kepada dunia bahwa kemerdekaan kita ini hanyalah hadiah dari Jepang. Dasar bedebah mereka itu,” muka anak itu terlihat merah padam. Begitu marahnya dia sampai urat lehernya terlihat menegang.

Benarkah itu? Apakah aku yang ketinggalan begitu banyak? Tetapi kenapa pagi tadi aku tidak mendengarnya di liputan pagi, koran ataupun desas-desus sekalipun. Bukankah hal seserius ini akan membuat Indonesia gempar dan menyiagakan semua armadanya. Tentunya pula akan menjadi bahasan utama di semua pembicaraan. Kedaulatan Indonesia sedang terancam. Nyatanya, hei… tidakkah ini seperti yang tertulis di dalam buku sejarahku.

Berarti…

Di benakku bermunculan beberapa dugaan. Anak ini hilang ingatan, amnesia, sedikit terganggu dengan obsesinya menjadi pejuang atau ini hanya akal-akalan saja untuk mengisengi orang?

“Mau kuajak ke suatu tempat yang akan membuatmu mengetahui banyak hal?”

Aku mengangkat bahu.

“Untuk kali ini tidak dulu deh… aku juga harus pergi ke suatu tempat yang membuatku mengetahui banyak hal,” aku tersenyum ke arahnya. “Senang bertemu denganmu, oh, ya… namaku Rafi,” kuulurkan tangan ke arahnya, tulus.

“Oemar.” Sahutnya singkat sambil membalas uluran tanganku.

“Sayang sekali kau tidak dapat ikut bersamaku. Para pemuda kita harus disadarkan tentang pentingnya pendidikan agar kita semua dapat terlepas dari belenggu penjajahan.”

Aku mengangguk-angguk kecil. Aku tidak tahu permainan apa yang sedang dimainkannya. Mungkin dia salah satu calon anggota klub teater yang sedang menjalani tes, atau apalah sejenisnya. Yang pasti, aku tidak harus ikut dalam permainan anak dengan dandanan tahun 50-an ini kan?

Kubalikkan badan menuju arah yang berlawanan dengan Oemar. Rasa geli membiaskan senyum di wajahku. Namun, keadaan ini hanya mampu bertahan selama beberapa detik sebelum aku memperhatikan sekelilingku. Heran, semuanya terasa asing. Jalan beraspal licin yang beberapa saat lalu masih kutapaki telah berubah menjadi tanah merah yang lembek dan becek.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali dan saat itulah aku melihat keadaan diriku sendiri yang tak kalah parah dengan Oemar. Seragam SMAku, tas, jam tangan serta sepatuku raib tanpa kusadari dan sebagai gantinya kini melekat pakaian yang sama basinya dengan Oemar. Rambutku, uh… aku tak perlu bercermin untuk memastikan penampilanku sekarang.

Dengan cepat aku berbalik mengejar Oemar yang masih terlihat punggungnya dari tempatku berada. Hanya dia orang yang perlu dimintai penjelasan tentang semua hal yang berlangsung ini. “Tunggu, Mar…” setengah berteriak aku memanggil Oemar.

Oemar menoleh ke arahku, “Berubah pikiran?” komentar pertamanya saat aku berhasil menjejari langkahnya.

“Tak ada salahnya kan?” sahutku.

Aku ingin tahu permainan apa yang sedang dimainkan Oemar. Sejauh ini memang sangat mengesankan. Perpaduan antara akting, sulap dan hipnotis kupikir. Satu alasan yang paling utama adalah karena untuk saat ini aku sama sekali tidak tahu jalan untuk pulang.

* * *

Indonesia Nederlandsche School

Aku membaca sekilas papan nama yang tertangkap oleh mataku sebelum mengikuti Oemar berbaris bersama anak-anak yang lain. Apakah ini sebuah syuting adegan film dengan latar masa penjajahan? Kepalaku dipenuhi dengan beribu-ribu pertanyaan. Mimpi, pasti mimpi lagi.

“Plak,” kutampar pipiku sendiri. Sakit, kenyataan.

“Tegapkan badanmu! Bagitukah caramu menghargai perjuangan orang-orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya agar bendera ini dapat tegak di bawah langit biru?” setengah berbisik Oemar menegurku tajam.

Tubuhku mengejang. Antara tersinggung dan malu. Aku memfokuskan pandanganku ke depan, menatap Merah Putih yang terus bergulir dengan pasti menuju puncak. Terasa debar aneh saat menantikannya. Sesuatu yang belum pernah terasa sebelumnya.

Terdengar isak tangis keharuan di sekitarku, aku pun diliputi keharuan ganjil. Ikut terhanyut dengan suasana di sekelilingku.

“Sangat langka kesempatan melihat Merah Putih berkibar dengan gagah seperti ini,” kudengar suara Oemar seperti tercekat di tenggorokan.

Tiba-tiba semuanya menjadi samar-samar lalu berubah menjadi potongan-potongan yang tak beraturan. Oemar, anak-anak yang sebelumnya berada di dekatku, sebuah bangunan dengan nama Indonesia Nederlandsche School semuanya seakan tersedot ke sebuah lubang yang amat dalam.

Hanya Merah Putih yang berkibarlah yang tetap tegak. Keheningan pun tergantikan dengan keluh kesah, bisik-bisik bercapur tawa tertahan. Menyatu di bawah sinaran mentari pagi.

Sekarang aku tegak di antara anak-anak berseragam SMA, putih abu-abu dengan upacara rutin setiap minggunya, Upacara Bendera.

* * *

“Keadaan negeri kita belum stabil sepenuhnya hingga saat ini,” jawab Oemar ketika aku menanyakan kenapa hari ini Oemar tidak mengajakku ke INS, sekolahnya.

“Kegiatan sekolah pun pasang surut karena pengaruhnya,” katanya lagi.

“Gurumu tidak meminta bantuan orang lain untuk menangani INS?” aku merasa bingung ketika mengetahui Bapak Moh. Sjafei, guru Oemar mengajar sendirian di INS merangkap sebagai pemimpinnya.

“Kau pikir berapa orang yang bisa membaca dan menulis di Kayu Tanam ini? Kalaupun ada, mereka telah menjadi kaki tangan para kompeni. Para penjajah itu tak mungkin menyekolahkan mereka kalau bukan untuk kepentingan kompeni sendiri.”

“Itulah sebabnya aku bertekad sepenuh hati belajar dengan giat agar kelak aku dapat membantu guru mengajar di depan kelas, itu impianku. Sekarang pun kemampuan membacaku sudah boleh diuji. Aku selalu berlatih setiap ada kesempatan,” tersirat nada bangga di suaranya.

Kami duduk-duduk di atas batu besar dekat kali. Seperti pertemuan pertama kami, pertemuan-pertemuan selanjutnya berlangsung secara alami. Aku menunggu Oemar di Jalan Soepomo, persis di tempat pertama kali Oemar menegurku kemudian kehadiran Oemar dengan sapaan hangatnya serta merta menyadarkanku bahwa aku telah berada di tanah kelahiran Oemar.

“Rakyat kita masih takut melawan penjajah. Beberapa pihak malah takut kalau-kalau Belanda tersingkir dari negeri ini karena terlalu tergantung pada para penjajah itu. Mereka menjadi parasit bagi saudara sebangsa dan setanah air demi kesenangan sesaat.”

“Guru selalu menanamkan pada kami kenyakinan pada diri sendiri sehingga dapat lepas dari semua bentuk penjajahan dan rasa cinta tanah air agar kami rela mengorbankan semua yang ada untuk mencapai kemerdekaan. Kalau semua rakyat mau bersatu untuk mengusir para penjajah, mereka tidak akan mampu berkutik walaupun dilengkapi dengan peralatan canggih dan dibantu para sekutu -sekutunya,” Oemar melanjutkan.

“ Bambu runcing kita akan mampu membuat mereka kocar-kacir. Dengan semangat cinta tanah air, mati syahid atau hidup mulia, itu yang membuat kita semakin kuat, hal ini tidak dimiliki oleh para kompeni. Guru sering menceritakan tentang Ibnu Iskandar dan Iman Bonjol dalam melawan penjajah, mereka orang-orang berani yang optimis tentang kemerdekaan.”

“Aku ingin memiliki keberanian tersebut. Aku ingin semangat itu mengalir bersama aliran darahku dan nantinya akan menulari orang-orang di dekatku,” Oemar berdiri, matanya terpejam, tangannya mengepal.

Sejurus kemudian tangannya meninju angkasa dibarengi dengan pekikan takbirnya yang membahana.

Darahku menggelagak. Kurasakan adrenalinku berpacu, menyeruak ke seluruh otot-ototku. Tanpa sadar aku pun bangkit dan bersahutan bersama Oemar memekikkan takbir dengan perasaan yang tidak dapat kulukiskan.

“Allahu Akbar!”

“Merdeka!”

* * *

Aku tidak bertemu Oemar beberapa hari ini. Hampir setiap hari aku menunggunya di tempat biasa, namun sosok Oemar tidak tampak sedikit pun.

Kehadiran Oemar memang sangat berarti bagi hidupku. Aku merasakan pasokan semangat yang terus mengalir saat berada di dekatnya, ikut belajar di INS, mendengarkan cerita dan menyimak pelajaran dari Pak Sjafei serta bergaul dengan teman-teman Oemar yang tak kalah semangatnya.

Lima menit, sepuluh menit sampai setengah jam berlalu tanpa kehadiran Oemar. Aku memutuskan untuk kembali ke sekolah, waktu istirahat pasti telah usai. Oemar mungkin sibuk sekali minggu-mingu ini. Aku teringat cerita Oemar bahwa Belanda sudah mulai memasuki kawasan sekitar Kayu Tanam.

Aku sudah akan melangkah pergi saat kurasakan kegerahan yang luar biasa. Kegaduhan dari arah belakangku membuatku membalikkan badan. Asap kelabu membumbung di angkasa. Aku terperangah saat menyadari dari mana api berasal.

“Kayu Tanam,” desisku.

Tergesa-gesa aku berlari menuju desa Oemar dan inilah pertama kalinya aku pergi tanpa dirinya bersamaku.

Beberapa orang berseragam tampak berseliweran dengan sikap siaga di jalan-jalan. Di dalam pikiranku hanyalah Oemar. Para penduduk desa berlarian kalang kabut berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya, suara letupan senjata api menambah kacau suasana.

Mengendap-endap aku berlari menuju INS. Ada suatu dorongan kuat yang menginginkan agar aku melihat keadaan INS. Di depanku tampak sekumpulan serdadu berjalan ke arah yang sama dengan tujuanku. Di tangan beberapa orang dari mereka tampak teng -teng yang mungkinkah isinya…

“INS…”

Lamat-lamat aku teringat potongan demi potongan mimpi-mimpiku. Mereka berhenti tepat di depan INS sementara aku masih terpaku di balik sebatang pohon yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka.

Mereka terlihat mulai menyirami INS dengan minyak tanah yang mereka tumpahkan dari teng-teng yang tadi mereka bawa tanpa mempedulikan ricuhnya keadaan sekeliling, seakan-akan tugas mereka hanyalah untuk memusnahkan keberadaan INS dari bumi Kayu Tanam.

Aku masih mematung tak tahu harus melakukan apa saat terdengar suara cempreng yang melengking dari arah depan, “Apa yang akan kalian lakukan dengan sekolahku ?”

Oemar melesat menerkam seorang serdadu yang sedang berusaha menyalakan api.

Dengan enteng dia menyentak tubuh Oemar dan membantingnya dengan kasar ke tanah, tak puas dia kemudian menendang perut Oemar sampai terdengar jerit kesakitan Oemar ke tempatku bersembunyi.

“Oemar… pergi… ke sini Oemar!” jeritku tanpa mampu menolong Oemar. Ketakutan membuat seluruh tubuhku hilang kendali.

“Oemar…” lagi-lagi aku hanya dapat berteriak saat kulihat Oemar kembali bangkit dan berusaha menyerang orang-orang berseragam di depannya.

Api sudah merayap melahap dinding, atap dan semua yang ada di INS saat kulihat seorang serdadu mengarahkan senapannya ke arah Oemar.

Napasku tercekat menantikan detik berikutnya.

“Dor…”

Aku mati rasa.

Mimpiku…

* * *

“Rafi,” tepukan di pundakku membuatku tersentak cukup keras sehingga menyebabkan kursiku menimbulkan suara decitan.

“Kalau kau merasa kurang enak badan, kau boleh pulang nak,” setengah sadar aku mendengar suara Pak Sutardji menerobos gendang telingaku.

Masih kurasakan keringat yang mengalir deras dari seluruh tubuhku. Ketegangan masih terasa sempurna di antara tarikan napasku.

Aku menggeleng, mengisyaratkan aku tak apa-apa.

Pak Sutardji mengangguk walau tatapannya masih menyiratkan kekhawatiran. Beliau kembali ke depan kelas dan melanjutkan pelajaran.

Oh… Oemar seharusnya kau pun berdiri di depan murid-muridmu. Menulari mereka dengan semangatmu, mengajari mereka untuk mandiri dan cinta terhadap tanah air seperti cita-citamu.

Tetapi tenanglah Oemar. Perjuangan akan terus berlanjut. Rakyat kita akan terbebas dari kebodohan. Kita akan merdeka jiwa dan raga. Penjajahan akan kita usir dari negeri ini. Kau akan melihat banyak orang yang akan mewujudkan impianmu, dan kau akan menemukanku di jalan yang sama denganmu.

Rafi Maulana Abdullah.

Desember 1948 yang kelam.

Terinspirasi dari cerita INS Kayu Tanam pada bahan mata kuliah Pengantar Pendidikan

Telah Berkata Abu Nawas Wednesday, Apr 8 2009 

Wahai Rabbi, jikapun besar dosa-dosaku lagi banyak

Maka sesungguhnya aku yakin bahwa kemaafanmu terlebih besar

Jika seandainya tiada boleh berharap kepada-Mu kecuali orang yang baik

Maka kepada siapakah berlindung dan meminta perlindungan orang-orang yang berlumuran dosa

Aku berdoa kepada-Mu wahai Tuhanku sebagaimana yang telah engkau perintahkan karena merendahkan diri kepada-Mu

Maka apabila Engkau menolak kedua tanganku, siapakah yang dapat mengasihani kepadaku

Tiada perantara bagiku kepada-Mu melainkan hanya mengharap dan keelokan maaf-Mu

Kemudian setelah itu baru aku termasuk orang yang menyerah

Biarkan Kita ke Surga Thursday, Mar 26 2009 

Kalau teman-teman ada yang ikutan acara maulid Nabi pada Sabtu, 21 Maret kemarin di masjid kampus, pasti udah pada tahu cerita ini, yang diceritain Ustadz Mustofa dari Betawi itu lo…

Tapi boleh lah kalau sedikit lebih didramatisir dan digarap ulang walau pernah baca juga entah cerpen siapa, di mana dan kapan yang menggunakan tema seperti ini juga…

“Cerai?”

Lelaki itu hampir tak mampu lagi menahan pandangannya agar terus bersirobok dengan mata wanitanya yang sekarang mulai membanjir. Namun, inilah ketukan palu batinnya. Hanya kata itu yang dia yakini dapat mengeluarkan mereka dari kumparan masalah yang terus membayangi tiap napasnya. Masalah? Lelaki itu sebenarnya kurang yakin apa masalah mereka sebenarnya.

“Alasan, Mas. Saya perlu alasan …” tuntut wanitanya getir.

Lelaki itu melemparkan pandangannya jauh ke arah langit malam yang terbingkai sempurna di balik jendela kamar mereka. Miris rasanya harus mengungkapkan hal yang bahkan tak dapat dibisikkannya untuk telinganya sendiri. “Kau belum temukan alasan kita?” tanyanya lirih.

Di raihnya tangan wanitanya rapat. Dingin dan kaku. Sekaku pertemuan pertama mereka di kamar kecil yang sama. Dapat dilihatnya tubuh wanitanya agak bergetar menahan isak, sebergetar dulu, ketika kali pertama lelaki itu membahasakan arti hadirnya di bawah sorot lampu kamar mereka yang dengan setia terus memolototi dinding-dinding kamar kecil yang kadang ribut meringis dan mengejek kebersamaan yang coba mereka rajut.

Mungkin, inilah terakhir kalinya dia dapat mengalirkan semua pesan tanpa kata lewat nadi yang berdenyut turut menyapa kulit lembut wanitanya itu. Dengan enggan dibimbingnya wanitanya mengitari ruangan dan berhenti tepat di depan meja rias wanitanya.

Tempat favoritnya. Dulu. Ketika hanya sebuah bayang sempurna yang selalu lekat di setiap kedipnya. Ketika lelaki itu tahu bahwa dirinya tak akan pernah merasa bosan, jenuh atau lelah walau harus dengan terus mendongak untuk memandangi wanitanya itu menyisiri setiap helai rambut hitamnya yang berombak atau mengulas kedua belah pipinya yang ranum dengan warna merah muda yang terlihat serasi dengan kulitnya.

Lelaki itu paling senang kalau wanitanya itu membiarkan dirinya yang mewarnai bibir wanitanya dengan warna lipstik pilihannya. Saat itu wanitanya akan sedikit menunduk dan lelaki itu akan sangat senang bisa melihat wanitanya dengan jarak sedekat itu dengan dirinya agar dia dapat merasakan nafas wanitanya dan yakin bahwa wanitanya juga menyukai kebersamaan mereka.

Lelaki itu melepaskan genggaman tangannya. “Masalah kita…”

Perlahan-lahan lelaki itu naik ke atas kursi yang biasanya digunakan wanitanya untuk berhias. Malu-malu lelaki itu menatap cermin yang telah memetakan setiap lekuk mereka dengan sempurna. “Itulah masalah kita.”

* * *

Lelaki itu terpana ketika mengawasi sosok yang dilihatnya berada di dalam cermin berdebu di ruang bawah tanah rumah mereka.

Siapakah gerangan?

Apa yang harus dikatakan tentang sosok yang terjebak dalam cermin itu? Tinggi badannya tak lebih dari seorang anak SD, paling-paling hanya sekitar 100 cm. Janggut tebal yang membingkai rahangnya semakin membuat sosok itu tampak seperti tokoh kurcaci di dalam dongeng putri tidur.

Lelaki itu berusaha menyapa sosok itu. Dia terlihat ramah dan matanya bersinar riang. Itulah satu-satunya hal terbaik yang dapat ditemukan lelaki itu pada sosok yang terlihat melongokkan kepala ke arahnya.

“Hai…” ujar lelaki itu. Dia tegang menantikan bagaimana suara sosok itu. Apakah suaranya akan terdengar seaneh sosoknya yang ganjil di dalam cermin.

Sosok itu hanya membentuk senyum di mulutnya tanpa suara. Kalau lelaki itu mengucapkan sesuatu, sosok itu juga sepertinya ingin mengujarkan sesuatu sehingga lelaki itu tak pernah dapat mendengar apa yang dikatakan sosok itu.

Lelaki itu benar-benar tertarik dengan kenalan baru yang belum memberi tahu namanya itu. Mungkin saja dia punya cerita seru tentang kenapa dia harus terkurung dalam cermin berdebu di ruang bawah tanah itu.

Mereka belum berhasil bertukar kata ketika lelaki itu mulai melihat kehadiran sosok lain di belakang makhluk aneh yang masih menatapnya dengan ramah.

Sosok baru itu? Apakah dia telah terkurung juga?

“Mas…” lelaki itu merasakan ada tepukan lembut di bahu kanannya. Agak terperanjat lelaki itu menoleh dan menemukan wanita berwajah bidadari tersenyum hangat padanya.

Getar-getar aneh mulai mengaliri tubuh lelaki itu ketika dilihatnya sosok baru yang muncul di cermin itu juga memberikan senyum sehangat perapian di antara badai salju pada makhluk aneh yang terkurung dalam cermin.

Lelaki itu hampir pingsan ketika dirinya mulai menyadari sesuatu.

* * *

Wanita itu membiarkan jeda menenggelamkan mereka ke dalam lautan bisu yang menjembatani jarak yang coba diukir lelakinya. Dapat dilihatnya dalam bahasa cermin besar yang tak mau mengalihkan pandangannya dari mereka berdua kalau lelakinya itu hanya tegak di sampingnya dengan pandangan tajam menembus pori-pori lantai tanpa mau lagi memandang lukisan besar mereka yang sekarang bernada sumbang.

“Cita-cita kita, Mas, tak cukupkah itu?”

Lelaki itu masih terbius, masih terasa jauh.

“Tak inginkah, Mas kalau kita bersama lagi? Seperti impian yang selalu kita lantunkan setiap malam?”

Wanita itu sadar ini hanyalah satu riak di perjalanan mereka. Saat lelakinya sudah terlalu banyak mendengar cerita bualan dari negeri dongeng dan mulai membaurkan langkah dengan jalur yang tak mereka rencanakan untuk ditempuh

Lelaki itu mulai mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk menikmati sebuah lukisan nyata yang sempat menyesakkan hatinya. Sosok yang dilihatnya di gudang itu lagi, tapi kali ini tak ada wajah ramah yang terpancar. Betul-betul tak ada hal baik yang dapat ditemukannya dari sosok di depannya

“Biarkan kita pegang dua kunci itu, Mas. Kita susuri dua jalan yang Tuhan anugerahkan pada kita. Syukur akan mengantarkan Mas ke sebuah pintu bernama surga dan selanjutnya, izinkan saya, Mas…” wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajah lelakinya sehingga membuat wajah lelakinya mulai merona, membuat sosok aneh dalam cermin itu berubah menjadi sosok yang sangat dihormati dan dihargainya.

“Izinkan saya menyusul Mas dengan menggandeng sabar sebagai mahkota saya,” bisik wanita itu manja.

Dengan lembut wanita itu merengkuh tubuh lelakinya, memalingkannya dari lukisan bernada sendu itu dan menghembuskan simfoni baru ke indera lelakinya.

“Mas, biarkan kita ke surga.”